Arsip untuk Mei, 2011


Ini adalah sedikit cuplikan dari PRS unit SMPN 3 BOGOR yang berjudul "Denisa - Senandung di Tanah Papua"
Drama ini telah di tampilkan di AKAS 2011 dan meraih juara 1, serta ditampilkan dalam acara perpisahan sekolah SMPN 3 BOGOR
Drama ini bertemakan tentang usaha seorang guru dan dokter untuk membebaskan papua dari penyakit malaria.
ini pemeran-pemerannya


DENISA “ Senandung di Tanah Papua “
Dia adalah Denisa, dia berasal dari keluarga yang berkecukupan karena ayahnya adalah seorang pengusaha kaya raya. 
Mereka sangat menginginkan anak-anaknya untuk bersekolah setinggi tingginya agar kelak dapat meneruskan perusahaan yang telah dirintis dari kecil. 
Namun, jiwa Denisa tak sependapat dengan kedua orang tua dan kakak-kakaknya.
Dia tidak suka bisnis, oleh karena itu, dia mengambil jurusan pendidikan guru saat kuliah. 
Saat Dia lulus, dia memutuskan untuk menjadi guru di pedalaman Indonesia Bagian Timur. Dan inilah respon orang tuanya saat Dia mengatakan niatnya
Ibu  Ranti	:” APA! Kamu itu memang anak yang susah diatur. Kamu tidak mengambil pendidikan bisnis,  ibu masih bisa terima hingga akhirnya kamu menjadi guru.
                 Tapi untuk permintaan yang satu ini tidak akan ibu kabulkan. “
Pak Jimmy	: “ Memangnya , kamu ndak bisa jadi guru disini saja to ndo, di Jawa ini kan masih membutuhkan banyak tenaga guru”
Denisa	: “ Nuwun sewu, romo dan Ibu, niatku sudah bulat. Aku tidak membutuhkan materi. Aku hanya ingin mengabdikan diriku dengan ilmu yang aku punya. Karena itulah kebahagiaannku.
Denisa pergi ke daerah pedalaman Papua. Denisa disambut oleh Pak Robert, Kepala Sekolah yang  akan menjadi Ayah angkatnya selama dia berada disana.
Pak Robert	:”Selamat datang Ibu Denisa, ibu pasti masih merasa asing disini, tapi, tra ( tidak) usah khawatir, penduduk disini  pu hati baik.
                 Ibu istirahat sudah, barulah kita pi, ( pergi ) lihat kita pu sekolah.”
Denisa		: “oh baiklah kalau begitu “
Disana juga ada seorang Dokter muda bernama dr. Rama. 
Ia adalah satu-satunya dokter disana. Ternyata desa ini sedang mengalami kejadian luar biasa (KLB). 
Banyak penduduk disini yang terserang Malaria. dr. Rama sedang aktif memberikan penyuluhan tentang cara mencegah malaria, termasuk ke Sekolah Pertiwi tempat dimana Denisa akan mengajar.
Dr. rama	: “ Nah, adik-adik, kalian harus diberi vaksin agar kalian kebal dari penyakit malaria, siapa yang mau terkena penyakit malaria ?”
Ramon		: “ Kita orang pu nenek sakit, demam tinggi, kejang-kejang, malaraia kah?”
dr. Rama	:” Betul, itu cirri-cirinya nak, makanya jika kalian tidak ingin terkena malaria, mari kita vaksin. “
Tifani          :” Bapa dokter, apakah malaria bisa buat kita mati ?.”
dr. Rama	:“ Bukan mati nak, tapi meninggal! Iya, malaria dapat menyebabkan kita meninggal.“
Denisa dan Pak Robert tersenyum melihat murid-murid yang antusias melihatnya.
Pak Robert      :” Ramon yang tinggal di balik hutan sana adalah anak didik kita yang paling pandai, Bu! Anak perempuan itu namanya tiffany, ia tinggal didusun sebelah.“
Setelah itu, Pak Robert memperkenalkan Denisa pada murid-muridnya, wajah mereka sangat polos. Mereka memanggilnya ibu cantik. Denisa memiliki teman guru juga, namanya Ibu Maria dan ia asli orang papua.
Ibu Maria	:“ Selamat datang ibu Denisa, kau cantik sekali.”
Denisa	: “ Terima kasih, ibu maria juga sangat cantik. “
Denisa menjalani hari-harinya mengajar disekolah, usia sebesar mereka masih banyak yang belum bisa membaca dengan baik, namun yang membuat Denisa bangga adalah mereka sangat berusaha keras sekali.
Karena mereka ingin menjadi anak-anak yang pandai. Saat Ia tanya apa impian mereka, mereka menjawab dengan lugu namun berapi-api.
Anak-anak     : “kami ingin pergi ke Ibu Kota Indonesia Ibu Guru, kota Jakarta.”
2 minggu kemudian
Sudah dua minggu, Tiffany tidak masuk sekolah. Tidak ada yang tahu alasannya mengapa ia tidak pergi kesekolah. 
Oleh karena itu, Denisa pergi mengajak Ibu maria untuk mengunjungi dusun sebelah, tempat kediaman Tiffany.
Sementara itu di dusun mangau, tempat Tiffany tinggal

Pak suku	:” Tiffany, kau tra usah sekolah sudah. Kau ikut upacara baru kau pu sakit malaria tra bias buat mattis batalkan pinang. Dia sukasih dua babi mo. Baru ko mau bikin malu kita pu muka? ”
Ibu Suku	:” Kasiang kau pu bapa, dia pingin liat ko bahagia toh ”
Pak suku	:” Kita orang malu pu anak pelanggar adat, kau tra diajarkan adat dalam sekolah. Baru sembuh ko pu mace baru di pinang. “
Ternyata adat disusun Tiffany masih sangat primitif, ia tinggal di rumah honai wanita. 
Ayah Tiffani sangat dingin menyambut kedatangan Denisa dan Ibu Maria. Lalu, Ayah tiffani  langsung mengajak Ibu Maria Berbicara, kemudian Ibu maria menyampaikannya pada Denisa.
Denisa          :“ Kalau begitu, Tiffany harus segera kita bawa ke rumah sakit, atau kita panggil dokter Rama kemari. Bagaimana, Tiffany harus segera diobati. Jika terlambat saja ditangani, ia bisa-bisa tidak tertolong.”
Ibu Maria menyampaikan perkataan Denisa pada Pak Suku. Ia setuju untuk memanggil dokter Rama kemari, walaupun sebenarnya ia sangat asing tentang kedokteran.
Namun, demi tiffany ia harus mengesampingkan adatnya dulu. Tak lama kemudian, datanglah dr. Rama. Ia langsung memeriksa Tiffany.
Dr. Rama	: “ Sebetulnya, ia masih bisa diobati asal ia betul-betul istirahat total dan minum obat secara teratur. Hanya saja sepertinya ia tidak mau menolong dirinya sendiri. Ia tidak memiliki semangat untuk hidup. “
Lalu, Ibu suku menjelaskan duduk permasalahannya. Bahwa Tiffany ingin melanjutkan sekolah sementara ayahnya meminta ia menerima pinangan anak kepala suku dari desa sebelah.
Padahal Tiffany ingin sekali pergi sekolah ke ibu kota suati hari nanti. Lalu, Denisa mendekati Tiffany kemudian membisikkannya sesuatu kepadanya.
Denisa		: ” Kamu harus bertahan tiffany, Jakarta menunggu kamu. Kamu tidak boleh menyerah kepada penyakit malaria ataupun nasib.
                    Kamu harus sembuh dulu. Setelah itu, baru kita pikirkan kembali bagaimana kamu berjuang untuk menginjak Jakarta. Ingat! Jakarta menunggu kamu sayang.”
Tiffany         : ” Terimakasih ibu guru cantik”
Di Rumah Pak Robert
Mama Robert	: ” Mengapa Ibu guru cantik belum pulang bapa, ini hampir malam”
Pa Robert	: ” Mace sedang menjenguk dia pu murid, yang takis didusun sebelah, padahal Ibu Denisa itu sedang kurang sehat. “
Denisa pun segera pulang. Rasa lelah mulai menghampiri. Sesampainya dirumah Pa Robert, mama Robert langsung menyambutnya. Namun tiba-tiba semuanya menjadi gelap dan Denisa tak ingat apa-apa lagi.
Tiga hari lamanya Denisa tak sadarkan diri. Saat dia membuka mata. Dilihatnya pak Robert, mama Robert, dr Rama, Ibu Maria dan beberapa murid sedang menunggunya.
Mama Robert	:“ Akhirnya ibu guru cantik sadar juga. Kami sangat mengkhawatirkan Ibu. Ibu terkena malaria ternyata. Tapi syukurlah masa kristis ibu sudah lewat.”
Pa Robert     	:” Kita orang semua betul-betul menjaga Ibu “
Denisa		:” Terimakasih semuanya, saya pikir saya hanya kelelahan saja saat saya pulang menengok Tiffany , tak disangka saya juga terkena malaria”
Ramon            :” Maaf ibu guru, Tiffany sudah pi gi meninggalkan kita. “
Dr. Rama        :” Satu hari setelah kita menengoknya, ia wafat, mungkin karena ia depresi “
Denisa sangat terguncang mendengarnya, bagaimana mimpi-mimpi Tiffany tentang Jakarta, ternyata nasib dan malaria telah memupuskan impiannya.
Setelah Denisa pulih dari malarianya, Dia dan semuanya pergi kedusun tempat Tiffany dahulu. Disana dijumpainya ayah dan ibu Tiffany yang masih bersedih.
Denisa melihat salah satu jari mereka tidak utuh, karena telah menjalani upacara potong jari, sebagai lambang duka yang mendalam.
Pa suku	:” Sa pu anak su tra ada, karena dia stress dipaksa menikah adat.”
Ibu Maria	:” Sudahlah bapak, itu sudah takdir, Tiffany meninggal karena penyakit malaria. Kita harus menerimanya Bapa.”
Setelah kejadian itu, Kami semakin aktif memerangi malaria, desa ini harus keluar dari kejadian luar biasa (KLB), dimana malaria bisa menyerang siapa saja, apalagi anak-anak.
Bagaimana nasib bangsa, jika kita terus menerus pasrah. Semua warga akhirnya bersedia mengikuti penyuluhan dan bersedia di beri vaksin.
Dari bulan ke bulan makin sedikit orang yang terkena malaria di pedalaman papua ini dan desa ini akhirnya bisa keluar dari status kejadian luar biasa,
Denisa benar-benar bahagia hidup disini, mereka membuatnya berarti. Apalagi saat  dia melihat ramon berhasil mendapat beasisiwa untuk meneruskan sekolahnya ke SMA di Jakarta.
Hal yang lebih membahagiakan lagi adalah saat kedua orang tuanya datang menjenguknya di pedalaman Papua ini.
Pak Jimmy	:” Setelah kehilanganmu, Kami sadar ndo, Kami harusnya bangga memiliki puteri yang berbudi luhur. Sebagai ucapan terima kasih , kami akan menjadi donatur untuk memajukan sekolah dimana kamu mengajar ndo.”
Denisa sangat bahagia mendengarnya, dilihatnya wajah pak Robert, mama Robert, bu maria, dokter Rama, dan murid-muridnya yang lain.
Inilah kebahagiaan yang hakiki. Saat kita merasa berarti untuk orang lain. Tidak perlu ungkapan terima kasih, biarkan tangan Tuhan yang merangkul kami, karena kita tak hanya bisa bahagia untuk diri kita sendiri, dan tak ada sesuatu yang abadi.
Berbuat baiklah walaupun hanya setitik.

Anak Bau Mulut, Normalkah?

Posted: Mei 30, 2011 in Info-info

TRIBUNNEWS.COM– Bau mulut selama ini memang identik dengan masalah orang dewasa, sehingga banyak orangtua yang kaget saat mencium bau tidak sedap dari mulut malaikat kecilnya.Banyak sekali faktor yang menyebabkan napas berbau tak sedap. Namun pada anak-anak, napas berbau pada umumnya tidak berkaitan dengan penyakit serius. Penelitian tahun 1999 yang dimuat dalam Journal of Pediatrics menyebutkan, bau mulut pada anak mayoritas berasal dari masalah di dalam rongga mulut itu sendiri atau berkaitan dengan rongga hidung.

Penyebab utama bau mulut adalah karena kebersihan gigi yang buruk. Pembusukan sisa makanan oleh bakteri akan menghasilkan sulfur yang menguap. Mulut kering saat tidur, serta sisa makanan di sela gigi atau sekitar amandel yang mengendap juga bisa terurai menjadi produk yang menghasilkan bau.

Gigi berlubang juga dapat memicu bau mulut. Bila lubang gigi belum mengenai akar gigi biasanya anak belum merasakan nyeri, namun seringkali sudah menyebabkan bau mulut.

Faktor lain adalah penyakit sinusitis akut dan kronik. Pada kasus ini, bau mulut bukan satu-satunya gejala. Sinusitis pada umumnya diikuti dengan batuk, demam, atau pembengkakan di rongga hidung. Bau mulut juga bisa menandakan adanya infeksi tenggorokan.

Untuk mencegah bau mulut, biasakan anak menyikat giginya secara rutin pada pagi dan malam hari. Minum banyak air putih agar mulut lembab juga membantu. Periksakan gigi anak ke dokter gigi setiap 6 bulan sekali untuk mendeteksi adanya lubang atau gangguan lain pada gigi.

 

sumber : http://id.berita.yahoo.com/anak-bau-mulut-normalkah-040014495.html

ANNOYING ORANGE AHAHAHA

Posted: Mei 30, 2011 in Uncategorized