Arsip untuk Juni, 2011

Sejarah Bahasa Indonesia

Posted: Juni 7, 2011 in Info-info

Bahasa Indonesia adalah bahasa resmi Republik Indonesia dan bahasa persatuan bangsa Indonesia. Bahasa Indonesia diresmikan penggunaannya setelah Proklamasi Kemerdekaan Indonesia, tepatnya sehari sesudahnya, bersamaan dengan mulai berlakunya konstitusi. Di Timor Leste, bahasa Indonesia berstatus sebagai bahasa kerja.

Dari sudut pandang linguistik, bahasa Indonesia adalah salah satu dari banyak ragam bahasa Melayu.Dasar yang dipakai adalah bahasa Melayu Riau (wilayah Kepulauan Riau sekarang)dari abad ke-19. Dalam perkembangannya ia mengalami perubahan akibat penggunaanya sebagai bahasa kerja di lingkungan administrasi kolonial dan berbagai proses pembakuan sejak awal abad ke-20. Penamaan “Bahasa Indonesia” diawali sejak dicanangkannya Sumpah Pemuda, 28 Oktober 1928, untuk menghindari kesan “imperialisme bahasa” apabila nama bahasa Melayu tetap digunakan.Proses ini menyebabkan berbedanya Bahasa Indonesia saat ini dari varian bahasa Melayu yang digunakan di Riau maupun Semenanjung Malaya. Hingga saat ini, Bahasa Indonesia merupakan bahasa yang hidup, yang terus menghasilkan kata-kata baru, baik melalui penciptaan maupun penyerapan dari bahasa daerah dan bahasa asing.

Meskipun dipahami dan dituturkan oleh lebih dari 90% warga Indonesia, Bahasa Indonesia bukanlah bahasa ibu bagi kebanyakan penuturnya. Sebagian besar warga Indonesia menggunakan salah satu dari 748 bahasa yang ada di Indonesia sebagai bahasa ibu.[6] Penutur Bahasa Indonesia kerap kali menggunakan versi sehari-hari (kolokial) dan/atau mencampuradukkan dengan dialek Melayu lainnya atau bahasa ibunya. Meskipun demikian, Bahasa Indonesia digunakan sangat luas di perguruan-perguruan, di media massa, sastra, perangkat lunak, surat-menyurat resmi, dan berbagai forum publik lainnya, sehingga dapatlah dikatakan bahwa Bahasa Indonesia digunakan oleh semua warga Indonesia.

Fonologi dan tata bahasa Bahasa Indonesia dianggap relatif mudah.Dasar-dasar yang penting untuk komunikasi dasar dapat dipelajari hanya dalam kurun waktu beberapa minggu.

Bahasa Indonesia

Pemerintah kolonial Hindia-Belanda menyadari bahwa bahasa Melayu dapat dipakai untuk membantu administrasi bagi kalangan pegawai pribumi karena penguasaan bahasa Belanda para pegawai pribumi dinilai lemah. Dengan menyandarkan diri pada bahasa Melayu Tinggi (karena telah memiliki kitab-kitab rujukan) sejumlah sarjana Belanda mulai terlibat dalam standardisasi bahasa. Promosi bahasa Melayu pun dilakukan di sekolah-sekolah dan didukung dengan penerbitan karya sastra dalam bahasa Melayu. Akibat pilihan ini terbentuklah “embrio” bahasa Indonesia yang secara perlahan mulai terpisah dari bentuk semula bahasa Melayu Riau-Johor.

Pada awal abad ke-20 perpecahan dalam bentuk baku tulisan bahasa Melayu mulai terlihat. Di tahun 1901, Indonesia (sebagai Hindia-Belanda) mengadopsi ejaan Van Ophuijsen dan pada tahun 1904 Persekutuan Tanah Melayu (kelak menjadi bagian dari Malaysia) di bawah Inggris mengadopsi ejaan Wilkinson. Ejaan Van Ophuysen diawali dari penyusunan Kitab Logat Melayu (dimulai tahun 1896) van Ophuijsen, dibantu oleh Nawawi Soetan Ma’moer dan Moehammad Taib Soetan Ibrahim.

Intervensi pemerintah semakin kuat dengan dibentuknya Commissie voor de Volkslectuur (“Komisi Bacaan Rakyat” – KBR) pada tahun 1908. Kelak lembaga ini menjadi Balai Poestaka. Pada tahun 1910 komisi ini, di bawah pimpinan D.A. Rinkes, melancarkan program Taman Poestaka dengan membentuk perpustakaan kecil di berbagai sekolah pribumi dan beberapa instansi milik pemerintah. Perkembangan program ini sangat pesat, dalam dua tahun telah terbentuk sekitar 700 perpustakaan. Bahasa Indonesia secara resmi diakui sebagai “bahasa persatuan bangsa” pada saat Sumpah Pemuda tanggal 28 Oktober 1928. Penggunaan bahasa Melayu sebagai bahasa nasional atas usulan Muhammad Yamin, seorang politikus, sastrawan, dan ahli sejarah. Dalam pidatonya pada Kongres Nasional kedua di Jakarta, Yamin mengatakan,

“Jika mengacu pada masa depan bahasa-bahasa yang ada di Indonesia dan kesusastraannya, hanya ada dua bahasa yang bisa diharapkan menjadi bahasa persatuan yaitu bahasa Jawa dan Melayu. Tapi dari dua bahasa itu, bahasa Melayulah yang lambat laun akan menjadi bahasa pergaulan atau bahasa persatuan.”

Selanjutnya perkembangan bahasa dan kesusastraan Indonesia banyak dipengaruhi oleh sastrawan Minangkabau, seperti Marah Rusli, Abdul Muis, Nur Sutan Iskandar, Sutan Takdir Alisyahbana, Hamka, Roestam Effendi, Idrus, dan Chairil Anwar. Sastrawan tersebut banyak mengisi dan menambah perbendaharaan kata, sintaksis, maupun morfologi bahasa Indonesia.

sumber : http://id.wikipedia.org/wiki/Bahasa_Indonesia

Bahasa Pertama Manusia

Posted: Juni 7, 2011 in Info-info

Perjalanan sejarah bahasa manusia tercatat dengan dua tingkatan, yang pertama yaitu,pembelajaran manusia pertama : di dunia yaitu Nabi Adam, akan beberapa nama benda, dalam hal ini Allah Swt langsung menjadi gurunya. Kedua : proses belajar secara bertahap anak manusia yang baru mulai bisa bertutur, lewat pendengaran akan suara-suara yang ia dengar.

Pada kesempatan kali ini kita akan mencoba membahas tentang mata pelajaran bahasa yang dikuasai oleh nabi adam, dan bagai mana bahasa itu tumbuh dan berkembang hingga menjadi perantara bagi manusia untuk bisa saling menyampaikan maksud dan saling faham. Sebagai mana yang telah dibahas di atas bahwa keberadaan bahasa di tengah-tengah masyarakat merupakan sebuah kemestian.
Sudah menjadi ketentuan bahwa bahasa itu terus berkembang seiring zaman, baik itu suara yang di lafazhkan, kalimat-kalimatnya, dan juga gaya penyampaian, oleh karena itu, bahasa kita sekarang sangat berbeda dengan bahasa generasi sebelum kita, dan begitu seterusnya sampai kepada Nabi Adam. Dalam hal ini bukan ulama bahasa saja yang mengadakan penelitian awal sejarah berkembangnya bahasa manusia, termasuk ulama filsafat, ahli tauhid, bahkan para raja terdahulu, seperti yang di kisahkan oleh Hyrodot, bahwa seorang raja mesir kuno yang bernama Absemtik, ingin membuktikan bahwa bahasa mereka adalah merupakan akar dari segala bahasa, maka ia mengadakan penelitian, yaitu dengan memelihara dua orang bayi yang dipisahkan dari khalayak ramai, hidup tersendiri, tidak di perdengarkan kepada mereka berdua akan suara apapun, dan jika tiba jadwal makan, pesuruh raja tersebut akan datang membawa makanan dalam keadaan diam tanpa suara dan sapaan. Yang menjadi harapan raja tersebut ialah, ucapan kata pertama ketika mulai bicara kelak, dengan menggunakan bahasa mesir kuno, sebagai bukti bahwa bahasa mereka adalah bahsa pertama manusia. Namun segala percobaan yang berlangsung sekian tahun, berakhir dengan kegagalan. Kata pertama yang di ucapkan oleh anak tersebut yaitu BECOS yang merupakan bahasa فرنجية yang umurnya jauh lebih dahulu . dan hingga sekarang belum ada satu penelitianpun yang bisa memberikan kita informasi tentang bentuk bahasa generasi manusia pertama.

وعلّم ءادم الاسماء كلها ثم عرضهم علي الملآءكة

Surat Al-Baqarah di atas menjelaskan bahwa, bahasa pertama yang dalam sejarah manusia adalah, bahasa yang di ajarkan Allah kepada Nabi Adam, yaitu bahasa arab. Meskipun para Ulama telah sepakat bahwa pengajaran tersebut tidak seluruh kosa kata, tetapi hanya sebahagian, namun iman kita selaku orang muslim telah mengikrarkan bahwa bahasa arab merupakan bahasa agama kita yang lahir lebih dahulu dari pada bahasa lainnya. Imam Hassan Al Banna dalam nasehatnya kepada umat mengatakan, usahakanlah untuk bias berbahasa arab, sebab bahasa arab bahagian dari syiar Islam.
Ditulis oleh : Abdurrahman Yusak

sumber : http://www.bungoislam.co.cc/2010/04/bahasa-pertama-manusia.html


Laporan Wartawan Tribunnews.com, Nurmulia Rekso P

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA – Indonesia merupakan rumah bagi sekitar 225 spesies kelelawar. Salah satunya yang juga merupakan endemik Indonesia adalah rubah kelelawar jenis terbang raksasa. Kelelawar ini memiliki bentangan sayap hingga 6 feet (kaki). Sayang, mamalia ini terancam punah.

Hal ini dikemukakan Kepala Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia, Prof. Dr. Lukman Hakim saat membuka acara bertajuk Second South- East Asian International Bat Conference di Bogor, Senin (6/6/2011).

Lukman menengarai, punahnya kelelawar di Indonesia tidak terlepas dari eksploitasi karst (kapur) oleh manusia. Padahal, lokasi tersebut merupakan kediaman kelelawar.

Bukan hanya itu, ancaman punahnya kelelawar juga dipicu kegiatan speleologi ataupun Caving (penelusuran gua). Hal ini telah mengganggu ketenangan kelelawar dalam berhibernasi. Energi kelelawar bakal menurun saat ketenangannya terganggu oleh para caver.

Selain itu, penggunaan pestisida terhadap serangga-serangga yang dianggap hama, ternyata juga dapat mengganggu populasi kelelawar. Hal tersebut terjadi saat serangga yang telah tersiram pestisida itu dikonsumsi oleh kelelawar betina. Pestisida itu akan mempengaruhi air susu kelelawar tersebut.

“Sehingga bisa dibilang bahwa kelelawar adalah komponen penting dalam fauna di Asia Tenggara yang terancam punah” ujarnya.

Padahal, kelelawar dapat sangat membantu untuk menyeimbangkan ekosistem, termasuk membantu kehidupan sehari-hari manusia.

Satu koloni kelelawar dapat mengkonsumsi berton-ton serangga setiap sore, saat kelelawar-kelelawar keluar dari sarangnnya untuk mencari makan. Sebagai perbandingan, seekor kelelawar coklat dapat mengkonsumsi 600 serangga dalam waktu satu jam.

“Bisa dibilang dengan kelelawar setidaknya dapat menghemat penggunaan pestisida hingga lima puluh persen” tambahnya.

Di Indonesia, kelelawar juga berperan penting dalam penyebaran benih buah-buah tropis seperti mangga, rambutan, duku hingga durian. “Bahkan ada sejumlah buah yang proses reproduksinya hanya bergantung pada kelelawar,” imbuhnya.

sumber : http://id.berita.yahoo.com/gawat-indonesia-terancam-kehilangan-kelelawar-155818637.html