Archive for the ‘Naskah PRS JRC 3’ Category


Ini adalah sedikit cuplikan dari PRS unit SMPN 3 BOGOR yang berjudul "Denisa - Senandung di Tanah Papua"
Drama ini telah di tampilkan di AKAS 2011 dan meraih juara 1, serta ditampilkan dalam acara perpisahan sekolah SMPN 3 BOGOR
Drama ini bertemakan tentang usaha seorang guru dan dokter untuk membebaskan papua dari penyakit malaria.
ini pemeran-pemerannya


DENISA “ Senandung di Tanah Papua “
Dia adalah Denisa, dia berasal dari keluarga yang berkecukupan karena ayahnya adalah seorang pengusaha kaya raya. 
Mereka sangat menginginkan anak-anaknya untuk bersekolah setinggi tingginya agar kelak dapat meneruskan perusahaan yang telah dirintis dari kecil. 
Namun, jiwa Denisa tak sependapat dengan kedua orang tua dan kakak-kakaknya.
Dia tidak suka bisnis, oleh karena itu, dia mengambil jurusan pendidikan guru saat kuliah. 
Saat Dia lulus, dia memutuskan untuk menjadi guru di pedalaman Indonesia Bagian Timur. Dan inilah respon orang tuanya saat Dia mengatakan niatnya
Ibu  Ranti	:” APA! Kamu itu memang anak yang susah diatur. Kamu tidak mengambil pendidikan bisnis,  ibu masih bisa terima hingga akhirnya kamu menjadi guru.
                 Tapi untuk permintaan yang satu ini tidak akan ibu kabulkan. “
Pak Jimmy	: “ Memangnya , kamu ndak bisa jadi guru disini saja to ndo, di Jawa ini kan masih membutuhkan banyak tenaga guru”
Denisa	: “ Nuwun sewu, romo dan Ibu, niatku sudah bulat. Aku tidak membutuhkan materi. Aku hanya ingin mengabdikan diriku dengan ilmu yang aku punya. Karena itulah kebahagiaannku.
Denisa pergi ke daerah pedalaman Papua. Denisa disambut oleh Pak Robert, Kepala Sekolah yang  akan menjadi Ayah angkatnya selama dia berada disana.
Pak Robert	:”Selamat datang Ibu Denisa, ibu pasti masih merasa asing disini, tapi, tra ( tidak) usah khawatir, penduduk disini  pu hati baik.
                 Ibu istirahat sudah, barulah kita pi, ( pergi ) lihat kita pu sekolah.”
Denisa		: “oh baiklah kalau begitu “
Disana juga ada seorang Dokter muda bernama dr. Rama. 
Ia adalah satu-satunya dokter disana. Ternyata desa ini sedang mengalami kejadian luar biasa (KLB). 
Banyak penduduk disini yang terserang Malaria. dr. Rama sedang aktif memberikan penyuluhan tentang cara mencegah malaria, termasuk ke Sekolah Pertiwi tempat dimana Denisa akan mengajar.
Dr. rama	: “ Nah, adik-adik, kalian harus diberi vaksin agar kalian kebal dari penyakit malaria, siapa yang mau terkena penyakit malaria ?”
Ramon		: “ Kita orang pu nenek sakit, demam tinggi, kejang-kejang, malaraia kah?”
dr. Rama	:” Betul, itu cirri-cirinya nak, makanya jika kalian tidak ingin terkena malaria, mari kita vaksin. “
Tifani          :” Bapa dokter, apakah malaria bisa buat kita mati ?.”
dr. Rama	:“ Bukan mati nak, tapi meninggal! Iya, malaria dapat menyebabkan kita meninggal.“
Denisa dan Pak Robert tersenyum melihat murid-murid yang antusias melihatnya.
Pak Robert      :” Ramon yang tinggal di balik hutan sana adalah anak didik kita yang paling pandai, Bu! Anak perempuan itu namanya tiffany, ia tinggal didusun sebelah.“
Setelah itu, Pak Robert memperkenalkan Denisa pada murid-muridnya, wajah mereka sangat polos. Mereka memanggilnya ibu cantik. Denisa memiliki teman guru juga, namanya Ibu Maria dan ia asli orang papua.
Ibu Maria	:“ Selamat datang ibu Denisa, kau cantik sekali.”
Denisa	: “ Terima kasih, ibu maria juga sangat cantik. “
Denisa menjalani hari-harinya mengajar disekolah, usia sebesar mereka masih banyak yang belum bisa membaca dengan baik, namun yang membuat Denisa bangga adalah mereka sangat berusaha keras sekali.
Karena mereka ingin menjadi anak-anak yang pandai. Saat Ia tanya apa impian mereka, mereka menjawab dengan lugu namun berapi-api.
Anak-anak     : “kami ingin pergi ke Ibu Kota Indonesia Ibu Guru, kota Jakarta.”
2 minggu kemudian
Sudah dua minggu, Tiffany tidak masuk sekolah. Tidak ada yang tahu alasannya mengapa ia tidak pergi kesekolah. 
Oleh karena itu, Denisa pergi mengajak Ibu maria untuk mengunjungi dusun sebelah, tempat kediaman Tiffany.
Sementara itu di dusun mangau, tempat Tiffany tinggal

Pak suku	:” Tiffany, kau tra usah sekolah sudah. Kau ikut upacara baru kau pu sakit malaria tra bias buat mattis batalkan pinang. Dia sukasih dua babi mo. Baru ko mau bikin malu kita pu muka? ”
Ibu Suku	:” Kasiang kau pu bapa, dia pingin liat ko bahagia toh ”
Pak suku	:” Kita orang malu pu anak pelanggar adat, kau tra diajarkan adat dalam sekolah. Baru sembuh ko pu mace baru di pinang. “
Ternyata adat disusun Tiffany masih sangat primitif, ia tinggal di rumah honai wanita. 
Ayah Tiffani sangat dingin menyambut kedatangan Denisa dan Ibu Maria. Lalu, Ayah tiffani  langsung mengajak Ibu Maria Berbicara, kemudian Ibu maria menyampaikannya pada Denisa.
Denisa          :“ Kalau begitu, Tiffany harus segera kita bawa ke rumah sakit, atau kita panggil dokter Rama kemari. Bagaimana, Tiffany harus segera diobati. Jika terlambat saja ditangani, ia bisa-bisa tidak tertolong.”
Ibu Maria menyampaikan perkataan Denisa pada Pak Suku. Ia setuju untuk memanggil dokter Rama kemari, walaupun sebenarnya ia sangat asing tentang kedokteran.
Namun, demi tiffany ia harus mengesampingkan adatnya dulu. Tak lama kemudian, datanglah dr. Rama. Ia langsung memeriksa Tiffany.
Dr. Rama	: “ Sebetulnya, ia masih bisa diobati asal ia betul-betul istirahat total dan minum obat secara teratur. Hanya saja sepertinya ia tidak mau menolong dirinya sendiri. Ia tidak memiliki semangat untuk hidup. “
Lalu, Ibu suku menjelaskan duduk permasalahannya. Bahwa Tiffany ingin melanjutkan sekolah sementara ayahnya meminta ia menerima pinangan anak kepala suku dari desa sebelah.
Padahal Tiffany ingin sekali pergi sekolah ke ibu kota suati hari nanti. Lalu, Denisa mendekati Tiffany kemudian membisikkannya sesuatu kepadanya.
Denisa		: ” Kamu harus bertahan tiffany, Jakarta menunggu kamu. Kamu tidak boleh menyerah kepada penyakit malaria ataupun nasib.
                    Kamu harus sembuh dulu. Setelah itu, baru kita pikirkan kembali bagaimana kamu berjuang untuk menginjak Jakarta. Ingat! Jakarta menunggu kamu sayang.”
Tiffany         : ” Terimakasih ibu guru cantik”
Di Rumah Pak Robert
Mama Robert	: ” Mengapa Ibu guru cantik belum pulang bapa, ini hampir malam”
Pa Robert	: ” Mace sedang menjenguk dia pu murid, yang takis didusun sebelah, padahal Ibu Denisa itu sedang kurang sehat. “
Denisa pun segera pulang. Rasa lelah mulai menghampiri. Sesampainya dirumah Pa Robert, mama Robert langsung menyambutnya. Namun tiba-tiba semuanya menjadi gelap dan Denisa tak ingat apa-apa lagi.
Tiga hari lamanya Denisa tak sadarkan diri. Saat dia membuka mata. Dilihatnya pak Robert, mama Robert, dr Rama, Ibu Maria dan beberapa murid sedang menunggunya.
Mama Robert	:“ Akhirnya ibu guru cantik sadar juga. Kami sangat mengkhawatirkan Ibu. Ibu terkena malaria ternyata. Tapi syukurlah masa kristis ibu sudah lewat.”
Pa Robert     	:” Kita orang semua betul-betul menjaga Ibu “
Denisa		:” Terimakasih semuanya, saya pikir saya hanya kelelahan saja saat saya pulang menengok Tiffany , tak disangka saya juga terkena malaria”
Ramon            :” Maaf ibu guru, Tiffany sudah pi gi meninggalkan kita. “
Dr. Rama        :” Satu hari setelah kita menengoknya, ia wafat, mungkin karena ia depresi “
Denisa sangat terguncang mendengarnya, bagaimana mimpi-mimpi Tiffany tentang Jakarta, ternyata nasib dan malaria telah memupuskan impiannya.
Setelah Denisa pulih dari malarianya, Dia dan semuanya pergi kedusun tempat Tiffany dahulu. Disana dijumpainya ayah dan ibu Tiffany yang masih bersedih.
Denisa melihat salah satu jari mereka tidak utuh, karena telah menjalani upacara potong jari, sebagai lambang duka yang mendalam.
Pa suku	:” Sa pu anak su tra ada, karena dia stress dipaksa menikah adat.”
Ibu Maria	:” Sudahlah bapak, itu sudah takdir, Tiffany meninggal karena penyakit malaria. Kita harus menerimanya Bapa.”
Setelah kejadian itu, Kami semakin aktif memerangi malaria, desa ini harus keluar dari kejadian luar biasa (KLB), dimana malaria bisa menyerang siapa saja, apalagi anak-anak.
Bagaimana nasib bangsa, jika kita terus menerus pasrah. Semua warga akhirnya bersedia mengikuti penyuluhan dan bersedia di beri vaksin.
Dari bulan ke bulan makin sedikit orang yang terkena malaria di pedalaman papua ini dan desa ini akhirnya bisa keluar dari status kejadian luar biasa,
Denisa benar-benar bahagia hidup disini, mereka membuatnya berarti. Apalagi saat  dia melihat ramon berhasil mendapat beasisiwa untuk meneruskan sekolahnya ke SMA di Jakarta.
Hal yang lebih membahagiakan lagi adalah saat kedua orang tuanya datang menjenguknya di pedalaman Papua ini.
Pak Jimmy	:” Setelah kehilanganmu, Kami sadar ndo, Kami harusnya bangga memiliki puteri yang berbudi luhur. Sebagai ucapan terima kasih , kami akan menjadi donatur untuk memajukan sekolah dimana kamu mengajar ndo.”
Denisa sangat bahagia mendengarnya, dilihatnya wajah pak Robert, mama Robert, bu maria, dokter Rama, dan murid-muridnya yang lain.
Inilah kebahagiaan yang hakiki. Saat kita merasa berarti untuk orang lain. Tidak perlu ungkapan terima kasih, biarkan tangan Tuhan yang merangkul kami, karena kita tak hanya bisa bahagia untuk diri kita sendiri, dan tak ada sesuatu yang abadi.
Berbuat baiklah walaupun hanya setitik.

Iteung’s Diary

Posted: September 27, 2010 in Naskah PRS JRC 3

Karya : Dentika L. Salampessy

Iteung’s Diary

Dear diary, hari ini teh hari terakhir Iteung bersama Kang Kabayan, isukan Kang Kabayan bade mangkat ka Jakarta untuk  merantau. Sedih pisan hati Iteung teh. Di sawah ieu, Kang Kabayang mengajak Iteung bertemu.

Nah… Eta Kang Kabayan datang. Coba penonton, Kang Kabayan Iteung teh padahal tidak ganteng sama sekali, tampang pas-pasan, kembalian deui. Tapi kudu kumaha deui atuh, Iteung teh sudah kepalang cinta gitu loh.

Kang Kabayan : Iteung, kamu jaga diri heula nya! Akang teh mau cari uang dulu ke kota.

Iteung              : Tapi kalau akang lama pulangnya, Iteung yang nyusul akang yah?

Iteung dan Kang Kabayan pun melepas kangen hingga akhirnya Kang Kabayang pergi. Bulan demi bulan, minggu demi minggu, hingga hari demi hari. Kang Kabayang tidak juga memberi kabar. Iteung stress alang kepalang. akhirna Iteung memutuskan menyusul Kang Kabayan ka kota.

Iteung              : Ya Allah Gusti! Ieu kota teh gede amat! Aduh kumaha atuh? Iteung teu nyaho

kudu nyusul Kang Kabayan ke mana?

Disaat Iteung kabingungan, Iteung nyanyi lagu nu sedih pisan. Tak lama, datanglah seorang ibu yang dandanannya menor abis kaya sinden-sinden di kampong Iteung, hanya saja pakaiannya mirip seperti artis-artis di TV.

Madam                        : Hmm.. I dapat mangsa baru, lumayan buat proyek baru I nanti.

Iteung              : Maaf, ari nyonya teh siapa?

Madam                        : My name is Madam Ajeng Kelling, kamu tak tau kan harus kemana? Ikut I saja! Suara

You bagus, biar pun you kampungan, tapi I rasa tinggal di poles sedikit saja you bisa

langsung jadi artis terkenal.

Iteung              : Tapi, Iteung ka kota mau cari Kang Kabayan!

Madam                        : You tak mau kan luntang-lantung di sini? Ikut I and you masih bisa cari Kabayang You

Itu!

Iteung bener-bener teu ngarti, kalau dipikir-pikir ada benernya juga kata Madam Ajeng Kellin. Akhirnya Iteung ikut Madam Ajeng Kellin ke rumahnya. Tanpa di duga, Iteung bertemu Kang Kabayang di sini. Tapi Iteung teh sedih deui eta Kang Kabayan teh berubah dan dia pura-pura gak kenal sama Iteung.

Madam            : Iteung! Ini pacar I, namanya Nanang, Nanang Hermansyah! Dia juga calon artis terkenal sama seperti you, nanti dia akan berduet dengan You!

Iteung              : Ini mah, bukan Nanang Hermansyah atuh Madam, tapi Kang Kabayan yang Iteung cari!

Kabayan          : Akh, itu mah bohong Madam! Saya mah teu wawuh jeung manehna!

( Maafin akang nya Teung, Akang teh jauh-jauh ka kota hoyong jadi artis terkenal)

Sumpah diary, Iteung teh teu nyangka pisan, eta si Kang Kabayang teh mani berubah pisan.

Madam                                    : Sudah-sudah, kita langsung bicarakan proyek kita! ( Sambil mengambil rokok)

Iteung              : Ilik-ilik! Eta si madam teh ning ngarokok. Punten Madam, ngarokok teh tidak baik untuk kesehatan, itu ge kata iklan yang Iteung tonton di TV, Abah dan ambu juga bilang

begitu!

Madam                        : Jangan ngurusin I! I tidak biasa tanpa merokok dan I tidak peduli bahayanya!

Ini sayang untuk You! (Memberi rokok kepada Kabayan)

Madam                        : Iteung, nama you harus diganti! Hmm… I ganti nama You with Krisbiyanti alias KB,

Not Keluarga Berencana tapi Krisbiyanti, sekali lagi I bilang sama You! You akan berduet dengan my Nanang, Nanang Hermansyah!

Iteung menjalani hari-hari Iteung bersama Madam Ajeng Kellin dan Kang Kabayan, pekerjaan mereka sebagai artis diisi dengan merokok, minum-minuman keras, dan lain-lain. Suatu hari saat konser tiba, Kang Kabayan dan Iteung tampil bersama dalam sebuah acara, Kang Kabayan meuni terpesona dengan penampilan Iteung.

KONSER

Madam                        : Waw, good job! I like it!

Kabayan          : (Tiba-tiba batuk)

Madam                        : Nanang sayang, kamu tidak apa-apa kan?

Kabayan          : Eng..  Enggak apa-apa Madam!

Madam                        : Iteung! Tolong panggilkan dokter!

Iteung              : Baik Madam!

AMBULANCE DATANG

Kabayan          : Dok, bagaimana dok?

Dokter             : Maaf, Tuan Nanang! Anda mengidap penyakit jantung koroner, dan penyakit anda ini

Sudah tidak bisa disembuhkan lagi.

Dear diary, akibat sering merokok dan jadwal konser yang padat teh, kesehatan Kang Kabayang pun menurun drastis. Dokter memvonis Kang Kabayan terkena penyakit jantung koroner.

Madam                        : Nanang!

Iteung              : Kang Kabayan!

Kabayan          : E..ma.. Madam sebenarnya, sa..saya memang Kabayannya Iteung!

Madam                        : Apa? Jadi!

Kabayan          : Maafin saya Madam! Iteung, maafin Akang yah? (Tiba-tiba jantung kabayan sakit dan mendadak jatuh tak sadarkan diri)

Dear diary, akhirna Kang Kabayan pun meninggal dan Madam ajeng Kelin pun mulai merubah kebiasaannya, ia mulai berhenti ngarokok. Lama kelamaan karir Iteung terus meroket, bahkan ayeuna teh Iteung diangkat jadi duta anti rokok oleh departemen kesehatan.

PadaMu Ku Bersujud

Posted: September 27, 2010 in Naskah PRS JRC 3

Karya : Aby Habiby Hadiwijaya

(Haddad Alwi : Ummi)

Ini adalah Ibu Wati, beliau adalah seorang wanita paruh baya yg ditinggal oleh suaminya 3 tahun yang lalu. Beliau mempunyai 2 orang anak, yang pertama berna Tomi 18 Tahun dan yang kedua Dewi 15 tahun. Ibu wati sangat menyanyangi mereka, karena mereka adalah harta yang berharga yang beliau miliki sepeninggal suaminya.

Tomi anak pertamanya baru saja pulang, sangat senang sekali, karena sudah 2 hari TYomi tidak pulang ke rumah.

Ibu Wati               : Akhirnya kamu pulang juga! Darimana saja kamu nak? Pagi hari begini kamu baru                                           pulang?

Tomi                      : Gak usah mikirin Tomi! Minggir

Ibu Wati               : Tunggu! Kamu habis mabuk yah??

Tomi                      : Kalu iya emang kenapa? Hahaha…

Ibu Wati               : Meminum Khamar itu hukumnya haram nak!

Tomi                      : STOP! Gak usah ceramahin Tomi! Tomi mau tidur.

Tomi pun akhirnya pergi ke kamar tidurnya.

Ibu wati                : Ya Allah! Berikanlah hidayahmu pada anakku Tomi dan jauhilah dia dari segala perbuatan nista, Amin.

5 jam kemudian.

Dewi                      : Assalamuallaikum

Ibu wati                : waallaikumsalam! Kamu capek ya nak?…….Bi….Bi Inah

Bi Inah                  : Iya nyah.

Ibu Wati               : Bi Nah tolong bawakan tasnya Dewi ke kamarnya yah.

Dewi                      : Makasih yah Bi.

Bi Inah                  : sama-sama Non.

Bi Inah pun pergi.

Ibu Wati               : Ya sudah sekarang kamu istirahat saja dulu, mama mau pergi ke masjid dulu ingin bertemu dengan Pak Ustadz.

Dewi                      : Iya ma! Hati-hati yah

Ibu Wati pun pergi ke Masjid.

Sementara itu, di masjid Pak Ustadz sedang berceramah di depan santrinya.

Santriwati 1        : Pak Ustadz, saya ingin bertanya! Bagaimana caranya menjadi seorang muslimah yang baik?

Pak Ustadz          : Pertanyaan yang bagus! Caranya adalah… (Opick : Jagalah Hati)

Pak Ustadz          : Nah, begitu caranya.

Santriwati 2        : Lalu bagaimana caranya menjaga hati kita agar tetap bersih?

Pak Ustadz          : Begini caranya…( Opick : Obat Hati)

Pak Ustadz          : Bagaimana? Jelas semuanya??

Santri                    : Jelas Pak Ustadz.

Pak ustadz          : Kalau begitu, hari ini cukup sampai disini! Wabillahi Taufik wal Hidayah Wassallamuallaikum wr.wb.

Santriwati            : Waallaikumsalam wr.wb

Para Santriwati pun berpamitan untuk pulang.

Saat Pak Ustadz sedang berjalan keluar, beliau bertemu dengan Ibu Wati.

Ibu wati                : Assalamuallaikum Pak Ustadz

Pak Ustadz          : Waallaikumsalam! Ada perlu apa Bu wati?

Ibu Wati               : Begini Pak Ustadz, tentang anak pertama saya Tomi. Anak saya itu sudah sangat keterlaluan, pulang malam, mabuk-mabukan, dan yang paling membuat saya sedih, dia sering berkata kasar kepada saya.

Pak Ustadz          : Astagfirullah Alladzim. Sudah, jangan bersedih lagi Bu! Saya akan coba membantu Ibu.

Ibu Wati               : Terima kasih pak ustadz. Kalau begitu saya pamit dulu. Assallamuallaikum

Pak Ustadz          : Waallaikumsalam wr.wb

Ibu Wati dan Pak Ustadz pun pergi ke rumah mereka masing-masing.

Sementara itu di tempat lain.

Dia adalah Bento, dia adalah teman Tomi sejak SMA. Bento adalah anak dari seorang jutawan, namun kedua orang tuanya terlalu sibuk dengan pekerjaan mereka, sehingga Bento kekurangan kasih saying dari orang tuannya dan menjadi anak yang urakan. (Iwan Fals : Bento)

(Dalam Telepon)

Bento                    : Hari ini kita jadi ngetrack kan? Kapan lu mau dateng?

Tomi                      : Jadilah, Bro! Bentar lg gw dateng.

Bento                    : Cepetan yah! Gw tunggu.

Di rumah Tomi.

Dewi                      : Kak, kakak mau kemana?

Tomi                      : Minggir

Ibu Wati               : Kamu tidak boleh kasar begitu Tomi.

Tomi                      : Cukup! Tomi udah bosen dengerin ceramahan mama.

Ibu Wati               : Maafin mama Tom! Mama cuma mau kamu jadi anak yang sholeh, sesuai dengan amanat Almarhum Papa kamu sebelum meninggal.

Tomi                      : Papa itu udah meninggal, jadi jangan bawa-bawa nama Papa. (Mendorong Ibu Wati)

Dewi                      : Kakak gak boleh begitu, kalau begini caranya, Kakak sama aja jadi anak durhaka.

Tomi                      : Alah, jangan banyak ngomong deh

Akhirnya Tomi pun pergi meninggalkan Mama dan Adiknya.

Saat dalam perjalanannya, Tomi bertemu dengan Pak Ustadz

Pak Ustadz          : Assalamuallaikum nak Tomi.

Tomi                                      : Waallaikumsalam!

Pak Ustadz          : Bisa kita bicara sebentar?

Tomi                                      : Silahkan.

Pak Ustadz          : Bapak sudah mendengar semua tingkah laku burukmu selama ini. Bapak hanya ingin berpesan, bertobatlah sesegera mungkin, karena Allah itu Maha Pengampun, selain itu kasihanilah Ibumu, beliau mencoba untuk menjadi orang tua yang baik untuk kalian berdua tapi kau malah tidak menghargainya.

Tomi                      : Sudah ceramahnya? Maaf saya harus pergi

Pak Ustadz          : (Menggeleng) Ingat pesan Bapak tadi baik-baik.

Tomi pun pergi meninggalkan Pak Ustadz.

Sementara itu di tempat Bento.

Bento                    : Lama juga nih si Tomi

Tomi datang.

Tomi                      : Sorry Ben! Tadi rada macet.

Bento                    : Ya udahlah, kita berangkat

Tomi dan Bento pun pergi ke tempat balapan liar. Namun pada saat perjalanan, Tomi membawa motornya dengan ugal-ugalan dan menabrak sebuah mobil hingga akhirnya dia terjatuh dan tak sadarkan diri.

Bento                    : Awas Tom!

Tomi                      : Aaaahhhh… ( SE : Car Crash)

(SE : Phone)

Bento                    : Halo. Dengan RS. Suka Cita? Saya ingin melaporkan kejadian tabrak lari, mohon kirimkan ambulan segera.

(SE : Ambulance)

Sementara itu, di rumah kediaman Ibu wati.

(SE : Dering Telepon)

Dewi                      : Halo?…… Apa?…… Terima kasih

Ibu wati                : Telepon dari siapa nak?

Dewi                      : Da..dari rumah sakit ma! Katanya ka..kakak kecelakaan.

Ibu wati                : Apa? (Kena serangan jantung)

Dewi                      : Mama! Bi.. Bi Inah! Panggil ambulan Bi cepetan

Bi Inah                  : I..iya Non!

Ambulan pun datang.

Di rumah sakit.

Bento                                    : Kapan teman saya bisa pulang Dok?

Dokter                  : Besok juga sudah boleh pulang. Patah tulang di lengan dan cedera di pelipisnya sudah kami tangani.

Bento                    : Terima Kasih Dok.

Keesokan harinya.

Di rumah kediaman Ibu wati.

Pak Ustadz          : Yang tabah yah De! Semoga Arwah ibumu dapat diterima di sisi Allah.

Dewi                                      : Terima kasih Pak Ustadz

Tak lama datanglah Tomi dan Bento.

Bento                                    : Siapa yang meninggal Tom?

Tomi                                      : (Menggeleng)

Bento                                    : Gw pulang duluan yah

Tomi                                      : Makasih Ben

Pak Ustadz          : Yang sabar yah Nak Tomi.

Tomi yang baru saja pulang menjadi bingung setelah mendengar pernyataan dari Pak Ustadz dan melihat bendera kuning di depan rumahnya.

Tomi                      : Siapa yang meninggal?

Dewi                      : (Diam, memalingkan pandangannya)

Tomi                      : Mama?…. Lo becanda kan? Gak mungkin.

Dewi                      : Ini semua bener kak, Mama meninggal karena serangan jantung waktu ngedenger kakak kecelakaan. Sekarang kita udah jadi anak yatim piatu.

Tomi                      : Kakak masih gak percaya, mana buktinya?

Dewi                      : Kalau kakak gak percaya, kakak dateng aja ke tempat pemakaman mama, mama di makamin di samping kuburan Papa.

Tomi pun menuju ke TPU dimana orang tua dia di kebumikan.

(Gigi : Akhirnya)

Tomi                      : Maafin Tomi ya Ma! Tomi memang bukan anak yang berbakti kepada Mama, Tomi selalu menyusahkan dan berlaku kasar kepada Mama, tapi Mama selalu baik kepada Tomi. Tomi berjanji akan menjadi anak yang baik Ma.

(Seventeen : Ayah)

Tomi                      : Pa! Maaf kalau selama Papa hidup, Tomi selalu mengecewakan Papa. Maafin Tomi juga yang belum bisa ngebahagiain Papa selama masa hidup Papa. Tomi bangga punya orang tua seperti Papa yang selalu menasihati Tomi saat Tomi salah.

Lalu datanglah Pak Ustadz.

Pak Ustadz          : Kamu adalah anak yang beruntung memiliki orang tua seperti mereka.

Tomi                                      : Terima kasih Pak! Pak Ustadz bersedia kan untuk membantu saya agar dapat berubah?

Pak Ustadz          : Tentu saja! Sesama seorang muslim kita memang wajib untuk saling membantu dalam hal kebaikan.

1 tahun kemudian. Tomi berhasil merubah sikap buruknya berkat bantuan da dorongan dari Pak Ustadz dan Adiknya. Tomi dan Dewi pun memulai hidup baru mereka sebagai anak angkat Pak Ustadz.